Law and Economics: Ringkasan Beberapa Teori   Leave a comment

Roni Ansari N.S.


Resume Analisis Ekonomi atas Kontrak BAB VI-VII Cooter dan Ulen[1]

Secara umum efisiensi ekonomi mensyaratkan pemenuhan suatu janji jika pemberi janji (promisor) dan penerima janji (promisee) sama-sama menginginkan pemenuhan janji sejak awal janji diadakan. Pembuatan janji secara khusus mempertimbangkan pertukaran yang ditunda (deferred exchange) –yaitu transaksi yang memerlukan waktu untuk penyelesaiannya. Contohnya, salah satu pihak membayar sekarang dan pihak lain berjanji untuk menyerahkan barang kemudian (“payment for a promise”) atau salah satu pihak menyerahkan barang sekarang dan pihak lain membayar kemudian (“goods for a promise”) atau salah satu pihak berjanji untuk menyerahkan barang kemudian dan pihak lain akan membayar ketika barang sudah diserahkan (“promise for a promise”). Adanya passage of time antara pertukaran janji dan pemenuhannya menciptakan ketidakpastian dan risiko. Ketidakpastian dan risiko menghasilkan hambatan untuk melakukan pertukaran dan kerjasama. Oleh karena itu, penegakan (pelaksanaan) suatu janji mendorong adanya pertukaran dan kerjasama antara para pihak. Berdasarkan agency game diketahui bahwa jika tidak ada unsur enforceability pada suatu kontrak maka janji tidak akan dipenuhi. Halangan-halangan terhadap suatu enforceable contract bisa saja hukum yang dogmatis atau pengadilan yang korup. Jika kondisinya diubah, dengan adanya kontrak yang memiliki unsur ecforceablity maka janji para pihak akan dipenuhi. Semunya dilatarbelakangi bahwa cooperate menguntungkan daripada breach. Sedangkan pada kondisi sebelumnya, breach lebih menguntungkan.

Salah satu tujuan dari suatu hukum kontrak adalah untuk memampukan orang untuk kooperatif dengan mengubah permainan dengan solusi nonkooperatif menjadi permainan dengan solusi kooperatif. Selain itu, hukum kontrak memampukan orang untuk mengubah permainan dengan solusi yang inefisien menjadi permainan dengan solusi yang efisien. Komitmen untuk melaksanakan suatu janji dalam kontrak dicapai jika berhasil untuk menghilangkan kesempatan untuk ingkar janji. Kesempatan untuk ingkar janji bisa dihilangkan jika biaya pertanggungjawabannya mahal (costly). Jika jika harga untuk membatalkan kontrak semakin tinggi maka komitmen pemberi janji untuk menepatinya akan semakin kuat.

Selain itu, pertimbangan promisor untuk menepati janji juga ditentukan oleh perbandingan antara biaya perform dan beratnya pertanggujawaban jika breach. Kondisiny adalah sebagai berikut:

–   Jika [biaya promisor untuk perform > Pertanggungjawaban promisor untuk breach] => breach

–   Jika [biaya promisor untuk perform < Pertanggungjawaban promisor untuk breach] => perform

Efisiensi menyaratkan untuk memaksimalkan jumlah (sum) dari total ganjaran (total payoffs) dari promisor dan promisee. Keuntungan pemenuhan kontrak bagi promisee dan biaya dari promisor untuk melaksanakan janji tersebut. Oleh karena itu, efisiensi menyaratkan promisor untuk perform ketika lebih rendah daripada keuntungan yang diperoleh promisee. Efisiensi juga menyaratkan bahwa promisor untuk tidak menaati kontrak atau janjinya (breach) jika ternyata keadaannya berbalik. Kondisinya adalah sebagai berikut.

–   Jika [biaya promisor untuk perform > Keuntungan promisee atas perform] => Efisien untuk breach

–   Jika [biaya promisor untuk perform < Keuntungan promisee atas perform] => Efisien untuk perform

Teorema Coase

Tidak ada satupun yang menjadi lebih sentral dalam studi Law and Economics dan yang lebih berperan dalam perkembangan studi tersebut selain Teorema Coase (Coase Theorem)[2] yang dinamakan sesuai penemunya yaitu Ronald Coase.  Berbeda komentator maka berbeda pula formulasi Teorema Coase yang dihasilkan.[3] Mitchell Polinsky memberikan contoh sederhana mengenai Teorema Coase ini dengan menggunakan kasus yang dihadapi suatu pabrik ketika melapaskan asap ke udara sehingga menyebabkan polusi.[4] Polusi itu menyebabkan pakaian yang dijemur 5 keluarga yang memiliki rumah di dekat pabrik tersebut. Kerusakan yang dialami masing-masing baju adalah seharga $75, yang berarti kerusakan totalnya adalah 5 x $75 = $375. Solusi atas kerusakan baju tersebut ada dua yaitu:

1.      Dengan memasang penyaring (filter) pada cerobong pabrik seharga $150, atau

2.      Dengan memberikan 5 unit alat pengering listrik kepada masing-masing keluarga seharga masing-masing $50, dengan total biaya $250.

Jika kondisinya seperti ini maka pilihan yang paling tepat dan rasional adalah membeli filter dan memasngnya di cerobong seharga $150. Jika dibandingkan dengan membeli pengering seharga $250, maka membeli filter lebih murah $100.

Pertanyaan yang muncul adalah keluaran manakah yang paling efisien jika hak udara bersih diberikan kepada keluarga tersebut atau hak mengotori udara diberikan kepada pabrik. Jika keluarga memiliki hak atas udara bersih yang kita sebut dengan first rule. Maka pabrik memiliki 3 pilihan yaitu:

1.      Membayar ganti rugi baju yang rusak kepada tetangga sebesar $375,

2.      Membeli 5 unit alat pengering listrik kepada masing-masing keluarga seharga masing-masing $50, dengan total biaya $250, atau

3.      Memasang penyaring (filter) pada cerobong pabrik seharga $150.

Tidak ada pilihan termurah selain memasang filter yang hanya seharga $150 dari pada membayar ganti rugi dan membeli pengering listrik.

Bagaimana jika pabrik memiliki hak untuk mengotori udara? Kondisi ini dapat kita sebut second rule. Maka penghuni rumah memiliki 3 pilihan yaitu:

1.      Menderita kerugian karena rusaknya baju seharga total $375,

2.      Membeli 5 unit alat pengering listrik kepada masing-masing keluarga seharga masing-masing $50, dengan total biaya $250, atau

3.      Memasang penyaring (filter) pada cerobong pabrik seharga $150.

Pilihan yang paling efisien bagi keluarga ini adalah dengan pergi ke toko dan membeli filter dan memasangnya di cerobong asap. Dengan demikian, solusi paling efisien adalah memasang filter pada cerobong asap terlepas dari menentukan siapa yang memiliki hak. Pada gambaran tersebut, Polinsky mengasumsikan kalau antara pihak pabrik dan keluarga dapat menyelesaikan masalah ini tanpa adanya biaya transaksi. Inilah yang dinamakan transaksi berbiaya nol (zero transaction cost). Biaya transaksi adalah segala komponen biaya yang dikeluarkan oleh para pihak dalam melaksanakan suatu transaksi misalnya biaya memperoleh informasi ilmiah tentang asap pabrik, biaya melakukan pertemuan dan bernegosiasi, biaya merumuskan kesepakatan dan perjanjian serta biaya-biaya lain yang terkait. Jika keluarga dan pabrik mengeluarkan uang dalam mencari solusi serta dilakukannya negosiasi yang dilanjutkan dengan melaksanakan kesepakatan yang dicapai, maka transaksi yang terjadi ‘bukan’ lagi transaksi berbiaya nol.[5]

Dari ilustrasi ini Polinsky menyusun Teorema Coase dengan pernyataan “if there are zero transaction costs, the efficient outcome will occur regardless of the choice of the legal rule.” Meskipun demikian, pda kenyataannya apa yang dinamakan zero trancastion cost atau transaksi berbiaya nol tersebut sangat tidak realistis. Baik keluarga maupun pabrik yang mengahadapi permasalahan di atas sesungguhnya harus meluangkan waktunya yang terbatas, tenaga, serta mengeluarkan uang untuk biaya negosiasi untuk menyepakati solusinya.

Dalam contoh lain yang lebih kompleks, jika seandainya dalam suatu ladang terdapat seorang petani kacang dan seorang peternak sapi yang hidup bertetangga. Suatu ketika sapi-sapi peternak masuk ke pekarangan petani dan memakan kacang milik petani sehingga petani mengalami kerugian. Kerusakan kacang yang dialami oleh petani adalah seharga $100. Kembali kita dihadapkan pada dua kondisi yaitu:

1.      First rule dimana petani berkewajiban memasang pagar disekitar pekarangannya untuk melindungi tanamannya, dan

2.      Second rule dimana peternak yang berkewajiban untuk memasang pagar disekitar pekarangannya untuk mencegah sapi-sapi keluar.

Selain itu, ada kondisi dimana biaya yang dibutuhkan petani untuk memasang pagar adalah $50 sedangkan biaya yang dibutuhkan peternak adalah $75. Rule manakah yang lebih baik? Kalau Anda memilih second rule maka Anda termasuk kategori lawyer tradisional. Coase menyatakan bahwa sudut pandang yang digunakan adalah efisiensi. Jika melandaskan kepada efisiensi maka first rule adalah yang paling efisien, karena hanya berbiaya $50, sehingga kita bisa menghemat $50 jika kerugian akibat kerusakan tanaman adalah $100. Dengan second rule maka hasilnya tidak efisien karena biayanya $75, sehingga yang disisakan hanya $25.

Dari penjelasan di atas maka kita melihat bahwa aturan pertama lebih efisien dari pada second rule ‘jika’ (ada syaratnya) mereka berdua langsung menaati rule tersebut tanpa melakukan kerjasama. Namun bagaimana jika aturan hukum yang berlaku saat ini adalah second rule alias peternak yang wajib memasang pagar? Dengan melakukan kerjasama mungkin mereka bisa menemukan solusi terbaik. Kemungkinan yang muncul adalah peternak tidak akan memasang pagar dengan biaya $75 karena dia justru akan menyuruh petani yang memasangnya karena biayanya lebih murah, hanya $50. Jadi peternak akan membayar sebesar $50 kepada petani dan ‘ditambah’ dengan $12,5. Mengapa? Karena jika peternak membayar petani hanya $50 saja maka bagi petani dia tidak akan merasa lebih baik (better off) dibanding jika petani tidak melakukan ajakan peternak. Oleh karena itu, petani akan minta setengah dari sisa biaya yang seharusnya dikeluarkan peternak jika memasang pagar. Jadi perhitungannya adalah $50 + (1/2 x ($100-$75)), sehingga hasilnya adalah $62,5. Petani sadar bahwa peternak akan mengantongi $25 jika dirinya yang memasang pagar, sehingga dia meminta agar sisa itu dibagi dua.[6] Dengan demikian, meskipun hukum yang berlaku menyatakan bahwa pihak yang menimbulkan kerugian yang harus memberikan kompensasi bagi yang dirugikan, dengan sikap kooperatif dan negosiasi outcome yang lebih murah dan efisien bisa diperoleh, tanpa mempedulikan rule mana yang berlaku.

Dalam tawar menawar juga terkadang gagal atau tidak mencapai hasil yang efisien seperti pada kasus di atas. Tawar menawar tekadang gagal. Tawar menawar terjadi melalui komunikasi di antara kedua belah pihak. Komunikasi ini memiliki beberapa biaya antara lain biaya menyewa ruangan konfrensi, menyewa penengah, dan menyita waktu manusia yang sangat berharga. Sebagai perbandingan bahwa teorema Coase yang menyatakan bahwa jika biaya transaksi adalah nol maka alokasi yang efisien akan terjadi tanpa peduli aturan hukum. Cooter dan Ulen menambahkan bahwa ketika biaya transaksi cukup tinggi (mahal) untuk mencegah negosiasi, maka solusi yang paling efisien adalah tergantung pada bagaimana aturan hukum yang berlaku. Jika petani dan peternak gagal bernegosiasi karena biaya transaksi yang tinggi maka solusi yang efisien hanyalah mengikuti aturan hukum yang berlaku.[7]

Teori Permainan

I. Pengantar

Teori Permainan (Game Theory) dipelopori oleh ahli matemtika John von Neumann dan ekonom Oskar Morgenstern pada tahun 1944 dalam buku yang berjudul “Theory of Economic Behaviour” yang diterbitkan Princeton University Press. Secara umum teori permainan berkaitan dengan strategi terbaik atau optimum dalam berbagai situasi konflik. Setiap model teori permainan terdiri atas pemain, strategi, dan ganjaran. Pemain (player) adalah para pembuat keputusan yang perilakunya berusaha untuk dijelaskan dan ramalkan. Strategi (strategy) adalah pilihan untuk bertindak misalnya mengaku atau tidak, menaikkan harga atau tidak, membangun fasilitas baru atau tidak, serta tindakan serupa lainnya. Ganjaran (payoff) dalah hasil atau konsekuensi dari setiap pilihan strategi. Untuk setiap strategi yang diterapkan oleh sebuah perusahaan, biasanya terdapat strategi-strategi (reaksi) yang bisa dilakukan oleh pesaing.[8]

Berikut ini adalah game theory yang berkaitan dengan studi ekonomi yang disajikan berdasarkan daftar wikipedia:

–   Battle of the sexes

–   Blotto games

–   Cake cutting

–   Centipede game

–   Chicken (aka hawk-dove)

–   Coordination game

–   Cournot game

–   Deadlock

–   Dictator game

–   Diner’s dilemma

–   Dollar auction

–   El Farol bar

–   Example of a game without a value

–   Guess 2/3 of the average

–   Kuhn poker

–   Matching pennies

–   Minority Game

–   Nash bargaining game

–   Peace war game

–   Pirate game

–   Prisoner’s dilemma

–   Rock, Paper, Scissors

–   Screening game

–   Signaling game

–   Stag hunt

–   Traveler’s dilemma

–   Trust game

–   Volunteer’s dilemma

–   War of attrition

–   Ultimatum game

–   Princess and monster game[9]

Namun, tidak semua dari teori permainan di atas ada kaitannya dengan studi Law and Economics. Oleh karena itu, hanya akan dibahas beberapa teori saja.

I. 1. Prisoners’ Dillema

Salah satu teori permainan yang terkenal adalah dilema dua orang yang dihadapi tahan ketika mereka diinterogasi dan harus mengambil keputusan yang menentukan nasib mereka sendiri. Sebagai contoh, misalnya ada dua bernama A dan B ditangkap atas tuduhan perampokan bersenjata. Kemudian keduanya diinterogasi secara terpisah sehingga satu sama lain tidak bisa berkomunikasi. Jika terbukti bersalah maka masing-masing harus menerima hukuman penjara selama 10 tahun. Jaksa berjanji kepada masing-masing tersangka jika mereka mengaku sementara temannya tidak mengaku maka yang mengaku akan dibebaskan. Jadi jika A mengaku sedangkan B tidak, maka A bebas, sedangkan B penjara 10 tahun dan sebaliknya. Jika A dan B sama-sama mengaku maka keduanya hanya dihukum 5 tahun penjara. Jika A dan B sama-sama tidak mengaku maka mereka hanya dipenjara 1 tahun. Kondisi yang terpenting adalah bahwa baik A dan B tidak bisa berkomunikasi dan bekerja sama karena diinterogasi di ruang terpisah. Apakah A akan mengaku? Atau tutup mulut? Untuk mempermudah pemahaman game theory maka diperlukan suatu matriks ganjaran yang berisi ganjaran dari semua strategi yang mungkin dilakukan oleh setiap pemain.

B
A Mengaku Tidak Mengaku
Mengaku (5,5) (0,10)
Tidak Mengaku (10,0) (1,1)

Apakah yang menjadi strategi A? Mengaku atau tidak? Sekilas terlihat kalau A akan memilih tidak mengaku karena hukumannya hanya 1 tahun saja. Apalagi jika ternyata A dan B adalah perampok yang tidak ingin ketahuan telah melakukan perampokan bersenjata. Namun, strategi tidak mengaku bagi A ternyata berisiko. Mengapa?  Jika A memilih diam dan B juga, maka mereka hanya akan dipenjara 1 tahun. Tetapi jika B mengaku sementara A tetap diam maka A akan dipenjara 10 tahun. Selam dipenjara 10 tahun, B justru menghirup udara kebebasan. Manakah strategi dominan bagi A? Strategi dominan (dominant strategy) adalah pilihan yang optimum bagi seorang pemain, apapun reaksi yang akan dilakukan oleh lawannya.[10] Sebenarnya yang menjadi strategi optimum bagi A adalah tetap mengaku tanpa mempedulikan strategi B. Bahkan, mengaku juga merupakan strategi optimum bagi B. Mengapa? Karena jika A terus mengaku maka dia akan menerima kemungkinan penjara 5 tahun dan bebas. Hal ini juga berlaku bagi B. jika situasinya demikian maka mereka berdua akan menginap gratis selama 5 tahun dipenjara. Jika A selalu tidak mengaku dalam setiap kemungkinan maka ganjarannya adalah 1 tahun penjara atau 10 tahun penjara.

Jika A memilih tidak mengaku karena berpikir bahwa B juga akan merahasiakan perbuatan mereka alias tidak mengaku, maka menurut penulis A adalah orang bodoh. Pikiran-pikiran dan aksi bodoh seperti inilah yang diharapkan oleh B, supaya dirinya bebas. Kecuali jika mereka berdua bisa bertelepati atau mau coba-coba maka bisa saja mereka berdua tidak mengaku. Jadi, srategi dominan bagi A dan B adalah sama-sama mengaku. Paling tidak mereka bisa bertemu lagi dan saling bercerita tentang interogasi ini selama 5 tahun kedepan. Kondisi dimana para pemain harus memilih strategi terbaik tanpa mampu untuk berkomunikasi bisa juga disebut non-cooperative games. Solusi bahwa A dan B harus mengaku adalah suatu ekuilibrium dimana tidak ada alasan apapun bagi para pemain untuk mengubah strateginya. Ada suatu konsep dalam game theory yang bercirikan ekuilibrium ini, yaitu Nash Equilibrium (Keseimbangan Nash). Dalam kondisi ekulibrium ini tidak ada satu pemainpun yang dapat mengubah strateginya menjadi lebih baik sepanjang pemain lain juga tidak mengubah strategi mereka.[11] Teori permainan ini lebih sering dikenal dengan nama dilema tahanan (prisoners dillema).[12]

Dengan apalikasi yang lebih luas, game theory bisa menjadi obat mujarab jika mampu memprediksi bagaimana orang akan bermain banyak game yang banyak ditemukan dalam kehidupan sosial. Tetapi game theory tidka mampu untuk mengatasi semua masalah dunia. Mengapa? Karena teori ini hanya akan berguna jika orang bermain secara rasional. Jadi, game theory tidak bisa memprediksi perilaku jatuh cinta remaja seperti Romeo dan Juliet, atau pemarah sekelas Hitler atau Stalin. Bagaimanapun orang tidak selalu bertindak irasional, sehingga teori ini cukup berguna untuk meprediksi tingkah laku orang.[13]

Terkadang hukum menghadapi juga menghadapi hal serupa, dimana ada sedikit pembuat keputusan (decision maker) dan aksi optimal dari satu orang sangat bergantung dari aksi yang diplih oleh orang lain. Teori permainan ini bisa digunakan dalam kampanye pemilu, penentuan harga suatu barang, keputusan untuk mengurangi pasokan minyak di pasar internasional, keputusan untuk mengembangkan senjata nuklir, hukum kepailitan, penentuan jumlah produksi barang, kasus-kasus antitrust, dan contoh-contoh lain yang berlangsung dalam kondisi non-cooperative.

I. 2. Chicken Game

Ekonom dan ahli teori permainan juga mengembangkan dengan apa yang disebut dengan dengan chicken game untuk menggambarkan masalah free riding. Sama halnya seperti aktor (player) dalam prisoners’ dillema, para partisipan dalam chicken game memiliki sebuah pilihan atas dua aksi. Misalnya, anggap saja kalau A memiliki rumah yang dekat dengan tetangganya, yaitu B. Jika salah satu dari mereka membeli seekor anjing penjaga. Anjing ini nantinya akan memperingatkan pemilik rumah terhadap penyusup. A mungkin tidak akan membeli anjing karena dia berharap B yang akan membelinya dan B juga tentunya berpikir demikian. Disini, masing-masing pihak akan berharap agar pihak lain lah yang akan mengluarkan uang untuk membeli anjing. Jika salah satu pihak yakin bahwa pihak lain tidak akan membeli anjing (anggap saja si B), maka A akan membeli anjing karena nilai dari anjing tersebut akan melebihi biayanya.[14]

Contoh lain adalah masalah perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketika Soviet membangun instaliasi nuklir di Kuba, Amerika Serikat mengancam (baca: menggertak) akan meluncurkan misil ke Soviet jika mereka tetap melanjutkan membangun instalasi nuklir di Kuba. Hasilnya, Soviet yang berpikir rasional bahwa jika Amerika meluncurkan misil maka kerugian akibat perang akan sangat besar. Sedangkan Amerika menyadari langkahnya yang irasional adalah suatu langkah tepat. Pada kenyataannya, jika saja Amerika nekat meluncurkan misil maka baik Amerika maupun Soviet sama-sama masuk kepada kondisi perang yang tentunya sangat merugikan bagi keduanya. Namun, Amerika menyadari bahwa Soviet akan mengambil strategi rasional dengan tidak meluncurkan jika diancam. Untuk mempermudah, berikut ini dalah matriks ganjarannya.

B
A Tahan Luncurkan
Tahan (0,0)(aman) (-1,1)(kalah, menang)
Luncurkan (1,-1)(menang, kalah) (-10,-10)(hancur, hancur)

I. 3. Ultimatum Game

Pada awal tahun 1980-an dilema tahanan telah mengilhami permainan laboratorium bernama Ultimatum yang bisa kita sebut dengan ultimatum game. Pertama kali ultimatum game dikembangkan pada 1982 sebagai sebuah bentuk representasi negosiasi yang baru oleh Güth, Schmittberger, and Schwarze.[15] Mereka memaparkannya dalam hasil penelitian yang berjudul “An Experimental Analysis of Ultimatum Bargaining” dalam Journal of Economic Behavior and Organization.[16] Secara sederhana permainan ini bekerja sebagai berikut. Dua pemain yang tidak saling mengenal mempunyai peluang tunggal untuk membagi sejumlah uang. Kita sebut saja antara A dan B. Kemudian A diberi uang sebesar $ 20 dengan syarat harus menawarkan berapa pun, dari $ 0 sampai $ 20 kepada B. Maka B harus memutuskan apakah dia akan menerima atau menolak penawaran A. Jika B menerima maka mereka akan membagi uang berdasarkan penawaran A. Akan tetapi, jika B menolak maka mereka berdua akan pulang dengan tangan hampa. Kedua pemain sadar tentang aturan ini sewaktu memulai permainan tersebut.[17] Ada dua kondisi yang menjadi poin penting pada ultimatum game yaitu:

1.      Pemberi tawaran (proposer) akan menawarkan jumlah terkecil yang mungkin dilakukan (demi menahan jumlah uang sebanyak mungkin untuk diri sendiri), dan

2.      Penerima tawaran (responder) akan menerima jumlah berapa pun (karena jumlah kecil lebih baik daripada tidak ada sama sekali).[18]

Namun, berdasarkan bisa saja pemain yang cenderung memberikan ancaman untuk menolak biasanya berhasil mendapatkan pembagian yang baik. Pemain yang berani mengancam menolak telah mengubah pemikiran pemain lainnya bahwa dari pada pulang dengan tangan hampa lebih baik menerima berapapun yang dibagi. Contoh nyatanya adalah seringnya penolakan Amerika Serikat untuk ikut serta dalam perjanjian atau kesepakatan internasional, misalnya Protokol Kyoto. Negara ketiga tentunya mengaharapkan komitmen Amerika untuk ikut mengurangi faktor-faktor penyebab perubahan iklim. Tanpa keikutsertaan Amerika maka usaha negara-negara lain tidak akan signifikan karena Amerika lah yang paling banyak menghasilkan faktor-faktor itu. Menyadari hal tersebut, Amerika tentunya akan selalu mengancam akan keluar jika proporsi pengurangan tidak diubah sesuai keinginannya. Mau tidak mau, negara lain setuju karena keikutsertaan Amerika sangat berarti.

Daftar Pustaka

I. Buku

Binmore, Ken. Game Theory: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press, 2007.

Cooter, Robert dan Thomas Ulen. Law and Economics. Ed. 3. New York: Addison Wesley Longman, Inc., 2000.

Harrison, Jeffrey L. Law and Economics in a Nutshell. St. Paul, Minn: West Publishing, 1995.

Levitt, Steven D. dan Stephen J. Dubner. Superfreakonomics: Pendinginan Global, Pelacur Patriotik, dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa [Superfreakonomics: Global Cooling, Patriotic Prostitutes, and Why Suicide Bombers Should Buy Life Insurance]. Diterjemahkan oleh Alex Tri Kantjono Widodo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Polinsky, Mitchell A. Introduction to Law and Economics. Ed. 2. Boston: Little Brown & Company, 1989.

Salvatore, Dominick, Ekonomi Manajerial [Managerial Economics]. Ed. 5. Diterjemahkan oleh Ichsan Setyo Budi. Jakarta: Salemba Empat, 2005.

II. Internet

Hardy-Vallée, Benoit. “The Ultimatum Game: Economics, Psychology, Anthroplogy, Psychophysics, Neuroscience and now, Genetics.” <http://naturalrationality.blogspot.com/2007/10/ultimatum-game-economics-psychology.html&gt; diunduh pada 14 November 2010.

“List of Games in Game Theory.” <en.wikipedia.org/wiki/List_of_games_in_game_theory> diunduh pada 14 November 2010.

“Ultimatum Game.” <http://en.wikipedia.org/wiki/Ultimatum_game&gt; diunduh pada 14 November 2010.


[1] Robert Cooter dan Thomas Ulen, Law and Economics, Ed. 2, (New York: Addison Wesley Longman, Inc., 2000), hal. 184-193.

[2] Jeffrey L. Harrison, Law and Economics in a Nutshell, (St. Paul, Minn: West Publishing, 1995), hal. 56.

[3] Cooter dan Ulen, Op. Cit., hal. 82.

[4] Mitchell A. Polinsky, Introduction to Law and Economics, Ed. 2, (Boston: Little Brown & Company, 1989), hal. 11-14.

[5] Ibid.

[6] Cooter dan Ulen, Op. Cit., hal. 84.

[7] Ibid., hal. 85.

[8] Dominick Salvatore, Ekonomi Manajerial [Managerial Economics], Ed. 5, diterjemahkan oleh Ichsan Setyo Budi, (Jakarta: Salemba Empat, 2005), hal. 92-94.

[9] “List of Games in Game Theory,” <en.wikipedia.org/wiki/List_of_games_in_game_theory> diunduh pada 14 November 2010.

[10] Ibid., hal. 95.

[11] Cooter dan Ulen, Op. Cit., hal. 37.

[12] Salvatore. Op. Cit., hal. 98.

[13] Ken Binmore, Game Theory: A Very Short Introduction, (New York: Oxford University Press, 2007), hal. 2.

[14] Harrison, Op. Cit., hal. 47.

[15] “Ultimatum Game,” <http://en.wikipedia.org/wiki/Ultimatum_game&gt; diunduh pada 14 November 2010.

[16] Benoit Hardy-Vallée, “The Ultimatum Game: Economics, Psychology, Anthroplogy, Psychophysics, Neuroscience and now, Genetics,” <http://naturalrationality.blogspot.com/2007/10/ultimatum-game economics-psychology.html> diunduh pada 14 November 2010.

[17] Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner, Superfreakonomics: Pendinginan Global, Pelacur Patriotik, dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa [Superfreakonomics: Global Cooling, Patriotic Prostitutes, and Why Suicide Bombers Should Buy Life Insurance], diterjemahkan oleh Alex Tri Kantjono Widodo, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), hal. 124.

[18] Benoit Hardy-Vallée, Loc. Cit.

Posted February 14, 2011 by antitrustlaw in law and economics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: